Pandanglah DIA



Dua kisah yang menjadi perenungan pada saat ini adalah berkaitan dengan respon murid-murid Tuhan Yesus yang sedang berada di atas perahu pada danau Galilea. Menurut Wikipedia, Danau Galilea memiliki area permukaan air seluas 166 Km persegi dengan kedalaman rata-rata adalah 25.6 m. Dengan luasnya permukaan tersebut, menjadi masuk akal jika dimungkinkan terjadinya angin sakal (angin yang berlawanan arah dengan arah perahu) dan bahkan terjadinya angin ribut di Danau Galilea. Dalam hal ini, yang menjadi perhatian adalah respon dari murid-murid Tuhan Yesus saat terjadinya angin sakal atau angin topan yang menerjang kapan mereka. 

Kejadian pertama adalah ketika Yesus bersama para muridNya sedang menyeberangi danau Galilea dengan diikuti oleh beberapa perahu-perahu lain. Saat itu sudah petang. Dapat dibayangkan bahwa dengan cahaya yang semakin gelap, perjalanan mereka diterpa angin topan. Angin topan tentu menyebabkan kapal menjadi tidak seimbang, air danau masuk ke kapal, suara angin yang keras, dan menyebabkan arah kapal menjadi tidak dapat dikendalikan. Pada saat seperti itu, murid-murid sangat fokus sekali pada bagaimana menyelamatkan kapal agar mereka sendiri dapat selamat. Teriakan-teriakan dari satu murid kepada murid yang lainnya pasti beriringan dengan suara deru angin topan yang bisa saja mengalahkan teriakan mereka. Mungkin juga murid-murid tersebut berseru kepada Allah untuk menolong mereka. Dalam keadan yang sangat ketakutan dan kuatir, mereka baru sadar bahwa ada satu orang lagi yang tidak ikut berteriak, tidak nampak dalam hiruk pikuk upaya penyelamatan kapal dari terjangan angin topan. Murid-murid mencari-cari, yaitu Yesus. Di mana Yesus? jangan-jangan terjatuh ke danau. Di tengah pencarian tersebut, mereka melihat Yesus sedang tidur di buritan (bagian belakang) kapal. Bagaimana bisa dalam kondisi yang serba basah, teriakan-teriakan bersautan, kapal yang bergoyang keras, Yesus menikmati istirahatnya? Begitu murid-murid melihat Yesus, mereka langsung protes dengan membangunkannya sambil berkata "Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (ayat 38). Coba kita analogikan begini (semoga sesuai): ketika saya sedang menghadapi masalah keluarga di mana pemasukan mulai susah, pengeluaran yang tidak juga semakin berkurang, membuatku bingung, kuatir, marah, karena merasa bahwa semua jerih payah usaha pekerjaan tidak juga memberikan hasil. Saya lalu protes kepada Tuhan "Apakah Engkau tidak peduli padaku saat ini? Mengapa Engkau tidak memberkati usahaku yang sudah aku perjuangkan dengan sepenuh hati ini?" Dalam kondisi seperti ini, Yesus menanggapi protes dari para muridNya dengan langsung bangun dari istirahat lalu menghardik angin topan, dan amukan angin topan itupun langsung berhenti (ayat 39). Suasana tenang, bulan kembali menyinari danau Galilea. Dalam keadaan yang terpaku, seperti masih tidak menyadari apa yang sudah terjadi, Yesus langsung berkata "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (ayat 40) Membaca ini, tanpa sadar saya langsung mengeluarkan air mata. Demikian juga para murid Yesus, yang sudah mendapat banyak pengalaman mujisat saat bersama Yesus, memberikan tanggapan yang menunjukkan bahwa mereka seperti bukan murid, mereka menjadi seperti hanya pengikut yang masih kurang percaya kepada Yesus Anak Allah, "Siapa gerangan orang ini?". 

Kisah kedua adalah ketika Yesus memerintahkan para muridNya untuk berlayar terlebih dahulu menyeberangi danau Galilea, sedangkan Yesus tinggal di tepi danau untuk menyuruh orang banyak pulang, dan setelah itu Yesus berdoa secara pribadi di atas bukti. Saat waktu sudah malam, dapat dibayangkan bahwa suasana di tengah danau pastilah gelap, sangat sulit untuk mengenali secara jelas objek yang ada disekitar perahu mereka. Pencahayaan minim, mungkin dibantu dengan sinar bulan yang tertutup awan. Dan pada saat itu, kapan diterpa angin sakal yang membuat kapal sulit untuk bergerak maju. Pada sekitar jam 3 malam, para murid melihat ada sesuatu  yang bergerak ke arah mereka, namun mereka tidak tahu apa itu. Pengalaman beberapa murid sebagai nelayan tentu tidaklah sulit untuk menyesuaikan diri dan mengendalikan kapan saat diterpa angin sakal. Kemampuan penglihatan pada murid Yesus sebagai nelayan bisa dengan mudah menyesuaikan di waktu gelap. Namun demikian ketika melihat sebuah objek yang bergerak ke arah mereka, para murid itupun menjadi takut sampai meneriakkan "Itu hantu!". Mereka betul-betul takut oleh karena dalam pikiran mereka telah dikuasai akan ditemui oleh sesosok hantu. Dalam kondisi yang masih berjarak, suara Yesus memanggil mereka ternyata didengar oleh Petrus, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut". Lalu kita diberikan sebuah gambaran yang luar biasa. Tanggapan Petrus kepada panggilan Yesus itu menjadi suatu tanggapan yang tidak pernah terjadi lagi sepanjang hidup Petrus, dan para murid, "suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air". Yesus langsung memanggil Petrus "Datanglah!". Petrus turun dari perahu (ditengah angin sakal yang masih mendera) dan berjalan di atas air menuju Yesus. Namun kemudian Petrus jatuh ke air sambil berseru "Tuhan, tolonglah aku!" Apa yang terjadi? Mari kita perhatikan Matius 14:30. Petrus tidak lagi fokus pada panggilan Yesus. Terpaan angin sakal membuatnya beralih perhatian, sehingga memunculkan rasa takut saat menjalani "prosesi" berjalan di atas air itu. Petrus sedang mengikuti pelajaran iman yang sungguh mendalam. Saat Yesus menanggapi jatuhnya Petrus ke air "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?", menjadi sebuah kejadian yang tidak akan pernah dilupakan Petrus. Angin sakal telah mencuri perhatian Petrus yang sebelumnya selalu berpusat dan memandang Yesus saat berjalan di atas air. Seperti pada kehidupan saya, dan mungkin Anda, ketika dalam setiap prosesi menjalani kehidupan dengan berbagai tantangan, kebahagiaan, kesulitan, kesedihan, jika saya masih terpusat pada naik turunnya kehidupan, maka saya tidak akan pernah dapat fokus pada Allah Bapa. Kisah berjalannya Petrus di atas air menjadi pelajaran yang sangat penting, bahwa hanya dengan selalu memadang pada DIA sajalah, kita akan dapat melalui prosesi kehidupan di dunia ini. 

Kita tahu selanjutnya bahwa Yesus memberikan sebutan bagi Petrus sebagai batu karang pendirian jemaat Yesus Kristus, dan sebagai pemimpin di antara murid-muridNya (Matius 16:13-20). Dari Petrus (bersama Yohanes) jugalah yang berani memberitakan firman Tuhan di kota Yerusalem, Petrus yang diberi kuasa penyembuhan yang luar biasa.  Demikian jugalah saya dan Anda. Tetaplah memadang Yesus, tetaplah bersama Yesus dalam menjalani setiap prosesi dalam kehidupan di dunia ini. Pada saatnya, Allah Bapa akan memberikan panggilan yang luar biasa bagi kita. 


Bacaan: Markus 4:35-41 dan Matius 14:22-33

Komentar