Saya merenungkan kejadian ini setelah membaca sebuah buku "Mengenal Konteks". Pertanyaan yang muncul, dan ternyata pertanyaan ini juga telah diperdebatkan berabad-abad, adalah "mengapa Yesus, Anak Allah, yang tidak berdosa harus dibaptis?" Penulis buku "Mengenal Konteks" memberikan hasil pergumulannya bahwa "baptisan tersebut bukanlah untuk kepentingan Yesus, namun untuk Yohanes sendiri." Saya terbantu untuk kemudian melihat bagaimana Yohanes dengan pakaian berjubah bulu Unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan begitu gagah berani dan sangat pe de membangun sebuah citra dirinya kepada orang lain sebagai seorang utusan Tuhan dan pemimpin. Bahkan disebutkan juga bahwa Yohanes sebagai "nabi Perjanjian Lama" yang terakhir, sebab dia memperingatkan umat akan penghakiman Allah dan kedatangan "Orang Pilihan" Allah (Mesias). Dengan sangat berani Yohanes menegur orang Farisi dan Saduki sebagai "keturunan ular beludak". Bagi saya tindakan ini sangat sangat berani. Menyampaikan suatu hal KEBENARAN kepada penguasa yang tidak tahu akan kebenaran sudah menjadi suatu keberanian dan tantangan. Saya melihat Yohanes sungguh menjadi pemimpin, dan yang sangat paham akan tujuan hidupnya.
Namun, mengapa ketika Yesus datang agar dapat dibaptis, Yohanes menolak itu secara tegas! (bagi saya)? Saya membayangkan ada pergumulan pada diri Yohanes. Satu sisi dia sangat paham kepada siapa dia harus bersikap, namun sisi lain bahwa kekuatan pribadinya yang sangat paham akan tujuan hidupnya juga mendorongnya untuk tidak berserah kepada Yesus. Hingga akhirnya Yesus mengakatan pada ayat 15. Pada saat itulah, saya mulai memahami (walau sangat dangkal juga), bahwa baptisan Yohanes kepada Yesus, bukanlah untuk Yesus semata, namun proses baptisan itu juga menyadarkan Yohanes untuk menyerahkan kepemimpinan dalam tujuan hidupnya kepada Yesus, Anak Allah yang telah hadir di dunia sebagai wujud bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sungguh luar biasa bukan? (saya sangat terharu sekali)
Rasul Paulus pada suratnya 1 Korintus 1:17 juga menegaskan bahwa "kita diutus bukan untuk membaptis, tapi untuk memberitakan INJIL". Untuk apa? Kembali ini mengingatkan saya kembali bahwa tugas kita adalan untuk memulaikan nama Allah, meninggikan Yesus Kristus dalam setiap hidup dan pelayanan kita didunia ini. (lihat Yohanes 12:32). Oswald Chambers dalam renungan hari ini (1 Februari) menegaskan bahwa "Ïnjil", seperti yang diingatkan oleh Rasul Paulus, yaitu "kenyataan dari penebusan dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita cenderung menjadikan pengudusan sebagai sasaran pemberitaan kita. R Paulus mengacu pada pengalaman pribadi hanya sebagai ilustrasi, bukan sebagai tujuan pemberitaan. Kita tidak diamanatkan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan, namun kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus."
Tuhan menunjukkan suatu hal yang sangat mendasar bagi saya terkait dengan tujuan hidupku!
Bacaan: Matius 3

Komentar
Posting Komentar