Imanmu telah menyelamatkan engkau



Yesus dan para murid, dan tentu saja saya membayangkan dengan diikuti oleh orang banyak, sedang menuju ke rumah Yairus karena anaknya sedang sekarat. Di tengah perjalanan tersebut, tiba-tiba Yesus mengagetkan banyak orang di dekatnya dengan mengatakan "Siapa yang menjamah Aku?". Dengan berhentinya Yesus dalam perjalanan tersebut, tentu membuat yang lainnya juga berhenti.

Terhadap pertanyaan tersebut, Petrus karena ketidaktahuannya mencoba memberikan deskripsi kepada Yesus bahwa siapapun bisa menjamah jubah Yesus karena saat itu orang banyak mengelilingi mereka dan berdesakan.

Pengharapan yang sangat besar kepada kuasa Yesus yang mendorong seorang perempuan memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya menerobos kerumuman untuk menggapai ujung jubah Yesus. "Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh" pikir perempuan itu (Markus 5:28). Sebuah keinginan yang didorong oleh suatu kuasa kepercayaan yang besar pada Yesus dalam dirinyalah yang membuat dia nekad untuk dapat mendekati Yesus. Mungkin pada saat mendekati Yesus, dia akan bersentuhan dengan orang lain, akan dihardik, akan dikenali dan diusir karena dia dikucilkan selama ini. Tapi dia tidak perdulikan semua gangguan di sekelilingnya. Firasat dan harapan besar yang mendorongnya untuk sembuh hanya dengan menyentuh jubah Yesus, sudah cukup bagi dia. Dan ketika dia berhasil menyentuh ujung tubuhNya, pendarahannya berhenti. Pertanyaan Yesus "Siapa yang menjamah Aku?" membuat wanita itu kaget dan mundur. 

Max Lucado mendeskripsikan sebagai "Seorang wanita yang sudah merasa putus asa dengan penyakit pendarahannya yang sudah 12 tahun tidak sembuh.Wanita tersebut pastinya sudah berupaya untuk penyembuhan. Dia sudah kehabisan tabib, uang, dan harapan. Tapi yang paling mengenaskan, dia tidak memiliki teman. Penyakitnya membuatnya najis secara tata cara ibadat, terputus dari keluarganya dan rumah ibadat manapun. Dengan kondisi tersebut tentu dapat kita bayangkan bahwa dia diasingkan dari orang-orang."

Ketika Yesus tiba-tiba berhenti di dekat perempuan itu, tentu membuat perempuan tersebut mundur, hatinya menjadi ciut dan was-was. Lalu perempuan tersebut "... tampil dan tersungkut di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepadaNya" (Markus 5:33)

Di sinilah hal yang sangat luar biasa dilakukan oleh Yesus, bukan hanya sudah menyembuhkan penyakit perempuan tersebut. Yesus meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita perempuan tersebut. Berapa lamakah perempuan tersebut tidak dapat bercerita tentang keluh kesahnya kepada orang-orang lain? Tidak adakah orang atau keluarganya yang bersedia untuk bertanya atau mendengarkan cerita dari perempuan tersebut? Di depannya, Yesus memandang dan mendengarkan cerita dan keluh kesah perempuan itu. Tentu ketika Yesus mendengarkan, maka semua orang yang mengikutinya saat itu juga pasti akan berhenti dan ikut mendengarkan cerita perempuan itu. Setelah selesai bercerita, Yesus meneguhkan dengan memanggilnya "anak" (Lukas 8:48). Max mendeskripsikan bahwa ini adalah satu-satunya peristiwa dalam Injil di mana Yesus memanggil seorang wanita dengan "anak". Iman yang dimiliki oleh peremuan dalam kisah ini sepertinya sesuai dengan apa yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Ibrani (Ibrani 11:6): "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."

Luar biasa Yesus kita.


Bacaan: Markus 5:24-34

Komentar